Description
TEMPO Interaktif, MENTAWAI - Hampir sepekan setelah diguncang gempa dan diterjang tsunami, titik-titik dengan kerusakan terparah di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, belum tersentuh bantuan.
Bupati Mentawai Edison Seleleubaja mengatakan bantuan logistik dan ratusan relawan masih tertahan di posko bencana di Kecamatan Sikakap, Pagai Utara. Padahal di Kepulauan Mentawai, selain Pagai Utara, masih ada tiga kelompok utama pulau berpenghuni lainnya, yakni Siberut, Sipora, dan Pagai Selatan.
Menurut Edison, bantuan tidak bisa dikirim karena tak ada alat transportasi yang bisa menembus wilayah terparah itu. Bahkan lima kapal perang milik TNI Angkatan Laut pembawa bantuan pun tak bisa merapat. "Tidak ada tempat pendaratan," kata Edison kemarin. "Jadi kapal TNI AL terpaksa kembali lagi."
Menurut Edison, pengiriman bantuan kian sulit karena dalam beberapa hari terakhir Mentawai pun dilanda hujan deras dan angin kencang. Gelombang air laut lebih tinggi dari biasanya. "Jaringan komunikasi di sini juga rusak akibat gempa dan tsunami," ujar Edison.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mentawai, Jan Winnen Sipayung, mengatakan petugas dan relawan memerlukan lebih banyak perahu motor cepat (speedboat) untuk menyebarkan bantuan ke seluruh pelosok Mentawai. Perahu dan kapal berukuran kecil lebih efektif ketimbang kapal besar. Soalnya, selain melalui laut, jalur transportasi di Mentawai melalui banyak sungai.
Saat bantuan datang terlambat, jumlah korban yang ditemukan terus bertambah. Hingga kemarin sore, posko Sikakap mencatat 413 orang tewas dan 298 orang hilang. Sebanyak 207 orang menderita luka parah dan 142 orang luka ringan. Sebanyak 517 rumah warga hancur dan hilang terseret gelombang tsunami, yang di beberapa titik tingginya mencapai sekitar 15 meter.
Kepala Dusun Muntei, Pagai Utara, Jersanius Samalouisa, mengatakan sebagian warga Mentawai, terutama yang tinggal di kota kecamatan, sebenarnya tidaklah awam tentang bahaya tsunami. Soalnya, sejak para ahli meramalkan bahwa Mentawai bakal dilanda gempa besar, ada sejumlah lembaga nonpemerintah yang getol melatih warga menyelamatkan diri.
Warga Siberut Selatan, Siberut Utara, dan Pagai Utara, misalnya, telah membangun tempat pengungsian di puncak bukit. Untuk mempermudah penyelamatan diri, jalan menuju puncak bukit bahkan sudah disemen.
Menurut Jersanius, jumlah korban begitu banyak karena warga umumnya tak mengira tsunami bakal menghantam setelah terjadi gempa 7,2 pada skala Richter, Senin malam lalu.
Berbeda dengan gempa pada 2007, menurut Jersanius, gempa terakhir tak terasa seperti gempa kuat, meski bumi berayun lebih lama. Karena itu, sebagian besar warga yang sempat keluar pun kembali masuk ke rumah mereka ketika guncangan telah reda.
"Setelah gempa, kami kembali masuk ke rumah, melanjutkan nonton sinetron," kata Wilmar Samungilalai, warga Muntei, yang selamat. Muntei merupakan salah satu dari belasan dusun yang hancur diterjang tsunami.
l Febrianti | Supri Lindra | BASUKI RAHMAT | Antara
| Credibility: |
 |
 |
0 |
|
Leave a Comment